Deky Anwar, Ph.D I CEO Share-e Management
Salah satu isu penting dan menarik bagi saya sewaktu mengikuti international cenference di Inggris satu tahun yang lalu adalah apa fungsi uang sesungguhnya,? Prof Mehmed Asutay sebagai keynote speech nya waktu itu menyampaikan “pengertian” yang menarik tentang uang dan keuangan, yaitu “the art to protecting and financing people”.
Sebagai seorang dosen yang terbiasa dengan teks book yang didominasi faham kapitalisme tentunya pengertian ini agak asing ditelinga saya, namun saya sangat sepakat dengan pengertian ini, pengertian yang kembali kepada “khitah-nya”, pengertian yang mengandung dimensi kemanusiaan dan memanusiakan keuangan, mengajak keuangan down to earth melihat realitas kehidupan umat, pengertian yang menghilangkan egosentris keuangan.
Persis seperti awal munculnya uang, dulunya uang tidak ada, semua hanya pertukaran barang dengan barang (barter), uang kemudian didatangkan untuk membantu dan mempermudah sirkulasi barang.Seiring berjalannya waktu, uang berubah fungsi jadi “barang” sehingga ia bernilai dan diperebutkan semua orang. Uang mulai berdiri sendiri, berharga, sombong dan ngak peduli lagi dengan barang, sehingga uang menjadi diminati banyak orang dan semakin tambah banyak jumlahnya dibanding jumlah barang (economic bubble), inilah salah satu penyebab terjadinya apayang dalam istilah ekonomi disebut inflasi. Sederhananya, dulu beli lontong sayur satu piring dapat Rp. 1.000,- sekarang sudah jadi Rp. 7.000,-/piring. Padahal Prof.Irving Fishersalah satu ekonom modern monetaryAmerika sudah memperingatkan bahwa seharusnya jumlah uang itu sama dengan jumlah barang dengan rumus MV = PT nya pada tahun 1911.
Patut juga kita bertanya-tanya kenapa uang bisa lebih berharga ya sekarang? Jawabannya adalahsemenjak John Maynard Keynes dalam bukunya The General Theory Of Employment, Interest And Money (1936) memperkenalkan interest (i) atau apa yang kita kenal sekarang dengan nama bunga sebagai instrumen krusial dalam kebijakan moneter, dimana interest rate (i)ini nantinya menjadi indikator permintaan uang untuk spekulasi. Teori inilah pemicu uang benar-benar “berharga” saat ini. Padahal kata Imam Al Ghazali (1111) dalam kitab Ihya Ulumuddin uang itu ibarat cermin, ngak punya warna, tapi bisa merefleksikan semua warna. Uang juga seperti itu seharusnya, dia ngak punya harga, tapi ia menjadi refleksi dari harga-harga barang.
Protecting people dan financing peopleinilah seni dari keberadaan uang yang sesungguhnya, uang seharusnya mampu melindugi manusia, dari kesusahan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya, seperti makan, pakaian, tempat tinggal yang layak, pendidikan dan kesehatan.Bukan untuk berspekulasi dengan indikator interest rate ataupun menumpuk-numpuk kekayaan ataupun juga menghitung hitung saldo tabungan. Kenyataannya uang masih jauh dari fungsi yang sesungguhnya, berdasarkan informasi dari word health organization (2019) masih terdapat 820 juta manusia di bumi ini yang kelaparan setiap harinya. Uang belum berhasil menjadi Protecting!!
Apa yang salah? Uang sudah menjadi makhluk sombong dan serakah!! Siapa yang mengajarkannya untuk menjadi serakah? Manusia!!!.
