GAYA HIDUP HALAL: NOTE FROM FUKUOKA

Deky Anwar, Ph.D, CEO Sharee Management

Sewaktu saya mengikuti konferensi tentang industri halal di Fukuoka Jepang, Mr. Ahmad Maeno  dari Japan Muslim Association banyak sekali me “mention” tentang “prilaku halal” dari pada “produk halal”. Sebuah pendekatan yang menurut saya sangat penting untuk menuju gaya hidup halal seutuhnya. Sembari menikmati menu makan siang ala Jepang, dan sebelumnya memerhatikan lalu lalang orang-orang yang tampak sangat teratur dan disiplin, saya merenung: mengapa Jepang, negeri yang mayoritas penduduknya non-Muslim, justru tampak begitu dekat dengan substansi gaya hidup halal?

Halal bukan hanya soal apa yang kita makan, tapi bagaimana kita menjalani hidup. Di Fukuoka Jepang, saya melihat substansi gaya hidup halal hadir dalam bentuk yang tak disangka: kebersihan yang ekstrem, kejujuran dalam pelayanan, kedisiplinan dalam waktu, kesederhanaan dalam gaya hidup, dan kesadaran tinggi terhadap lingkungan. Nilai-nilai ini sesungguhnya sangat dekat dengan maqashid syariah, tujuan luhur dari syariat Islam itu sendiri.

Sebagai pemerhati ekonomi syariah, saya melihat gaya hidup halal kini mulai mengeliat untuk menuju arus utama (mainstream). Data dari State of the Global Islamic Economy Report 2024/25 menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen Muslim untuk produk halal mencapai USD 2,43 triliun, dan diproyeksikan tumbuh menjadi USD 3.36 triliun pada 2028. Indonesia, Inggris, UEA, hingga Amerika Serikat ikut bersaing dalam mengembangkan ekosistem halal: dari makanan, fesyen, kosmetik, hingga muslim-friendly travel.

Namun menariknya, di tengah geliat ini, justru masyarakat Jepang-lah yang memberi contoh konkret dan pelopor dalam hal kejujuran dan integritas yang menjadi ruh gaya hidup halal. Di Jepang, dompet jatuh di jalan bisa kembali utuh ke pemiliknya. Konsep “halal” di sini tidak dibatasi oleh simbol, tapi dijalankan dalam nilai dan tindakan nyata. Itulah mengapa saya menyebut Fukuoka sebagai pengingat senyap bahwa “gaya hidup halal” itu mungkin sudah menjadi budaya mereka.

Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia? Kita memiliki pasar, sumber daya, dan potensi besar. Namun kadang kita masih terjebak pada formalisme halal: label ada, tetapi kejujuran tak dijaga. Masjid megah, tetapi perilaku ekonomi belum mencerminkan keadilan dan penuh Riba. Sertifikat halal ada, tetapi gaya hidup boros dan konsumtif tetap dipelihara.

Gaya hidup halal harusnya menjadi pilihan sadar, bukan tren sesaat. Ia membawa misi: hidup secukupnya, rezeki yang bersih, transaksi yang adil, dan gaya hidup yang berdampak positif pada sesama serta lingkungan. Halal bukan eksklusif, justru inklusif—karena halal mengandung nilai kebaikan universal: aman, sehat, berkelanjutan, dan etis.

Pelajaran dari Fukuoka sangat sederhana: tidak cukup hanya tahu halal itu apa, tapi bagaimana kita menghidupi nilai-nilainya. Halal bukan soal label saja, melainkan tentang bagaimana hidup kita memancarkan kebermanfaatan bagi orang lain dan lingkungan. Maka, Fukuoka Jepang bukan hanya kota yang indah dan tertib. Bagi saya, ia adalah the living halal life style secara subsantif!!!.