Deky Anwar, Ph.D (CEO Share-e Management)
Marhaban ya Rasulullah ﷺ! Setiap kali maulid tiba, kita kembali menapaki jejak hidup Rasulullah ﷺ yang tidak hanya diakui sebagai pembawa risalah, tetapi juga teladan agung dalam dunia bisnis dan ekonomi. Hari ini, warisan itu masih terasa nyata. Laporan State of the Global Islamic Economy 2024/25 mencatat bahwa aset keuangan syariah global telah mencapai sekitar US$4,93 triliun pada 2023. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti bahwa nilai-nilai yang Rasulullah ﷺ tanam lebih dari 14 abad silam kini berkembang menjadi sistem ekonomi global yang terus tumbuh dan memberi manfaat luas.
Sejak kecil, Rasulullah ﷺ telah menapaki perjalanan hidup yang bikin kita berdecak kagum. Usia 8-12 tahun, Rasulullah ﷺ bekerja untuk orang lain dengan mengembala kambing atau hanya sekedar membantu membersihkan pekarangan rumah dengan sistem upahan. Ketika beranjak remaja usia 13-25 Tahun, Rasulullah ﷺ terjun ke dunia perdagangan dan berhasil menjadi manager dengan gaji dan bagi hasil 2 kali lebih besar dari standar gaji dan bagi hasil kebanyakan orang pada waktu itu, sehingga setiap pemilik modal di mekkah berebut ingin bekerjasama dengannya. Di usia 25 tahun, status pedagang berubah menjadi investor yang ia perankan bersama istri tercintanya khadijah. Rasulullah ﷺ sudah menjadi owner dari setiap bisnis yang dijalankan dan terus mengembangkannya layaknya seorang investor. Sungguh sebuah perjalanan karir yang luar biasa, dari seorang karyawan menjadi pedagang hingga berakhir sebagai investor yang investasinya terus berkembang sampai saat ini, dengan nilai kapitalisasi pasar US$4,93 triliun atau hampir Rp.81.000 Triliun, 4 kali GDP nya Indonesia!!!.
Namun yang menarik adalah, bagaimana jika kita buat simulasi nilai investasi tersebut dan membandingkannya dengan aset orang terkaya di Dunia?. Mari kita coba hitung-hitungan sederhana dengan mengunakan beberapa asumsi. Pertama, tahun yang kita pakai adalah Tahun 2023 (data yang tersedia), dengan nilai aset keuangan syariah global adalah US$4,93 triliun. Jika diasumsikan Rasulullah ﷺ menerima royalti dari “konsep bisnis” yang dibangunnya sebesar nilai tengah dari rata-rata royalti bisnis saat ini (4-12%), maka didapat nilai royaltinya sebesar 8%. Sehingga nilai royalti yang diterima Rasulullah ﷺ sebesar US$4,93 triliun x 8% = US$394,4 miliar. Sekarang kita bandingkan dengan orang terkaya di dunia, merujuk kepada data Forbes, orang terkaya di dunia pada Tahun 2023 adalah Elon Musk dengan nilai kekayaan US$245,3 Milyar. Maka berdasarkan asumsi ini, Rasulullah ﷺ adalah orang yang menempati posisi pertama dalam daftar orang terkaya di dunia, mengalahkan Elon Musk.
Bukan hanya sekedar kekayaan harta, Rasulullah ﷺ juga memiliki kekayaan hati dan akhlak yang tiada tandingannya. Rasulullah ﷺ membangun reputasi pribadinya dengan mengajarkan bahwa kejujuran dan integritas (shiddiq) adalah modal dasar dari setiap keberhasilan dalam bisnis. Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa amanah (al-amanah) dan transparansi (fathonah) lebih penting daripada keuntungan sesaat. Bisnis dalam pandangannya bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan juga sarana pelayanan sosial yang membawa manfaat bagi umat (tabligh). Prinsip-prinsip itu terbukti abadi, menembus ruang dan waktu, bahkan menjadi pilar tegaknya ekonomi syariah modern yang terus berkembang hingga saat ini.
Maka, ketika kita menyebut Nabi Muhammad ﷺ sebagai “The Wealthiest Man in History”, sesungguhnya bukan hanya karena harta yang dimilikinya, namun juga karena kekayaan nilai dan manfaat yang diwariskannya. Perpaduan kedua kekayaan tersebut sungguh sangat sulit ditandingi oleh siapapun dalam sejarah peradaban manusia. Marhaban ya Rasulullah ﷺ.
